Warga Dua Kelurahan di Ternate Sempat Bersitegang Soal Tapal Batas

Warga Dua Kelurahan di Ternate Sempat Bersitegang Soal Tapal Batas

Warga Kel. Tobolo saat protes Tawaf Gam oleh warga Sulamadaha (Fot/Che)

TERNATE, PORTALMALUT.com – Warga Kelurahan Tobololo dan Sulamadaha yang ada di Kecamatan Ternate Barat, Kota Ternate sempat bersitegang soal tapal batas. Peristiwa ini terjadi saat warga Sulamadaha menggelar upacara adat (Tawaf Gam) dan diprotes oleh warga Tobololo karena dinilai melewati batas Sulamadaha dan masuk di wailyah Tobololo, pada Jum’at (13/10/23) sekitar pukul 22:00 WIT malam tadi.

Pentau media ini, puluhan warga Tobololo berkerumunan saat melakukan protes ritwal Tawaf Gam yang dilakukan oleh warga Sulamadaha. Ritwal Tawaf Gam sendiri diketahui sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Tradisi Uci Dowong.

“Pokoknya dorang pe batas bajalan sampai di Gereja situ saja, lewat kabawa tara boleh, itu so lewat batas Kelurahan,” ungkap salah satu warga Tobololo.

Beruntung Kepolisian Sektor Ternate Pulau yang membawahi Kecamatan Ternate Barat, Kecamatan Hiri, dan Kecamatan Batang Dua langsung melakukan upaya mediasi di lapangan sehingga tidak terjadi bentrok secara fisik.

Kapolsek Ternate Pulau, Ipda. Wahyu Kurniyawan dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa tersebut dikarenakan adanya protes warga Tobololo yang  menilai bahwa ritual tersebut melewati batas kelurahan mereka.

“Adanya kerumunan warga Tobololo yang menilai ritual tersebut melewati batas Kelurahan mereka,” katanya.

Namun pihaknya langsung melakukan upaya mediasi antara kedua bela pihak, baik warga Sulamadaha yang punya hajat maupun warga Tobololo yang melakukan protes. Peristiwa inipun langsung diselesaikan secara keluargaan.

“Alhamdulillah meskipun ada ketegangan, kami dari pihak keamanan dapat mengambil jalan tengah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan. Dan warga Tobololo sudah mulai membubarkan diri dari TKP,” jelas Wahyu.

Sementara itu, Lurah Sulamadaha, Buang M. Djen, dikonfirmasi terkait tapal batas dua kelurahan tersebut mengungkapkan, jika menurut warga Tobololo yang mengklaim bahwa itu batas wailayahnya, maka pihak Sulamadaha juga mengklaim bahwa itu wilayah mereka, karena ritual ini sudah dilakukan bertahun-tahun dan melewati wilayah tersebut.

“Menurut dorang itu dorang pe batas, tapi menurut torang itu sudah pas. Karena selama ini ritual tahun-tahun kemarin batas sampe disitu juga,” katanya.

Disentil terkait perihal batas wailyah kelurahan, Buang menjelaskan bahwa sampai saat ini belum ada batas wilayah secara administrasi di dua kelurahan tersebut.

“Belum ada batas administrasi diantara Kelurahan Sulamadaha dan Tobololo,” jelasnya. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!