Komoditi Pala Sulut Jadi Objek Kajian Kemenves, Bahan Bakunya di Malut

Komoditi Pala Sulut Jadi Objek Kajian Kemenves, Bahan Bakunya di Malut

Direktur Hirilisasi Minerba, Kementerian Investasi/BKPM RI, Hasyim Daeng Barang (foto Fahri)

TERNATE, PORTALMALUT.com – Deputi Hirilisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi / BKPM tengah melakukan pengkajian untuk komoditi Pala di Manado, Sulawesi Utara (Sulut) dalam rangka pemenuhan investasi di sektor hirilisasi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menariknya, dari hasil penelusuran di lapangan, bahan baku untuk industri Pala dan Cengkeh yang ada di Sulut itu berasal dari Maluku Utara.

Hal disampaikan Direktur Hirilisasi Minerba Kementerian Investasi, Hasyim Daeng Barang usai melaksanakan Rapat Kordinasi Daerah (Rakorda) dalam rangka pengisian kajian hirilisasi invensi strategis  bersama pemerintah daerah, dan kelompok asosiasi yang berlangsung di Sahid Bela Hotel Ternate, Kamis (03/08/23).

“Kami Deputi Hirilisasi Investasi Stragis memiliki tiga Derektur yaitu, Perkembunan dan Kehutanan, Kelautan dan Perikanan, dan Minerba. Nah Pekembunan dan Kehutanan itu, tahun ini lagi mengkaji (Komoditi) Pala, justru titik kunjungannya bukan di Maluku Utara, di Manado (Selewesi Utara). Mereka ke Manado tanya industri bahan bakunya dapat dari mana, yang punya industri Pala dan Cengkeh itu katanya dapatnya dari Maluku Utara,” jelasnya.

Untuk itu, mantan Pj. Wali Kota Ternate ini berharap agar Provinsi Maluku Utara melalui pemerintah daerah dapat mengajak investor untuk bangun industri di Maluku Utara. Sebab dengan hadirnya industri maka pertumbuhan daerah ini akan terlihat.

“Di Bangka Belitung saya sampai disana masyarakatnya bilang, Pak kita punya tima terbesar ke dua di dunia, kita tidak mau industrinya bangun di Cilegon. Kita mau industrinya bangun disini, sehingga penyerapan tenaga kerja tumbuh, terus nilai tambahnya ada, ekonominya juga meningkat. Jadi kita maunya disini pak,” sambungnya.

Mantan Kadis ESDM Maluku Utara ini juga mengatakan, basar harapannya agar Pemprov Malut dapat melakukan hal tersebut, jangan hanya terfokus pada industri pertambangan. Sementara sektor-sektor lain juga memberikan kontribusi, hanya saja belum dikembangkan. Oleh karena itu dirinya berharap harus menghadirkan industri di Maluku Utara sehingga daerah tidak terus menerus jadi penyumplai untuk bahan mentah.

“Loh, masa bahan bakunya di kita, yang dapat disana (Manado) kita hanya ekspor. Bayangkan saja bahan mentah itu diolah bisa dijual 10 kali lipat loh. Contoh sukses story nya adalah pangan, kita di Indonesia tidak memiliki gandum, selalu menjadi negara importir gandum terbesar, tetapi kita punya industri gandum untuk mengolah menjadi tepung jadi sukses, kita bikin jadi Mei, dan kita kuasai pasar global, kita ekspor,” katanya.

“Jadi tadinya kita impor hanya 5000 perak, kita olah jadi Mie, Kue, macam-macam. Coba keluar negeri pasti ada Indomie disana, di semua negara. Kita jadi pemain pasar global. Saya berharap Maluku Utara yang punya Sumber Daya Alam bangun industri disini. Dengan industri pasti ekonomi akan naik, itu aja sih harapan saya,” tutupnya. (PortalMalut)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!