Refleksi 95 Tahun Sumpah Pemuda dan 5 Tahun Perjuangan Kopra

Refleksi 95 Tahun Sumpah Pemuda dan 5 Tahun Perjuangan KOPRA Oleh Samurai Malut

Foto bersama Koordinator Presidium bersama Camerad samurai/ Che
Koordinator Presidium bersama Camerad Samurai (Fot/Che)

TERNATE, PORTALMALUT.com – Refleksi 95 Tahun Sumpah Pemuda dan 5 Tahun Perjuangan KOPRA Oleh Samurai Malut, di depan kantor Wali Kota Ternate, Jl.Revolusi, Kel. Tanah Raja, Ternate Tengah (28/10/23).

Momentum Sumpah Pemuda yang ke-95 tahun 2023 direfleksikan oleh organisasi kepemudaan Solidaritas Aksi Mahasiswa Untuk Rakyat Indonesia (Samurai) Provinsi Maluku Utara (Malut) dengan menggelar aksi di garis putih Jl.Revolusi Kota Ternate. Pada kesempatan ini Samurai menyuarakan terkait komoditas lokal unggulan yang dimiliki oleh Malut yakni Kopra.

Pantauan media ini, aksi refleksi yang digelar oleh Samurai dengan mengecat badan bertuliskan Naikan Harga Kopra, serta membawa bibit Kelapa, dan juga membentangkan spanduk bertuliskan Refleksi 5 Tahun Perjuangan KOPRA, Penjarakan Para Koruptor dan Wujudkan Masyarakat Ekologis pada pamflet sambil berorasi menggunakan 2 buah corong berwarna merah.

Pada saat yang bersamaan Koordinator Presidium Samurai, Fahri Haya dalam orasinya menyampaikan, nasib petani di Maluku Utara akhir-akhir ini semakin memprihatinkan, sebab Pemerintah Daerah lebih gemar mengendors pertambangan dibandingkan komoditas unggulan Maluku Utara salah satunya Kopra.

“Dimana sekitar 200 ribu Kepala Keluarga di Maluku Utara gantungkan hidup mereka sebagai petani kelapa, tentu dengan lanjutnya investasi pertambangan menjadi ancaman tersendiri bagi petani kopra,” ungkapnya.

Disisi lain, Fahri juga menyoroti fakta yang terjadi sekarang ini adalah ancaman izin eksploitasi pertambangan. Hal ini menurutnya tidak bisa dilihat sebelah mata oleh pemerintah seperti yang di alami oleh warga Sagea, warga Obi dan warga Magoli di Kepulauan Sula pada saat ini.

“Refleksi yang digelar ini, akan berlanjut di Taman Nukila dengan agenda musikalisasi puisi selesai sholat Isya,” tambah Ari.

Sementara itu, Gusai Fabanya salah satu orator lainnya dalam penyampaian bobot refleksinya menyampaikan, kondisi hari ini Maluku Utara semakin ironi.

“Mulai dari pergeseran tenaga kerja dan juga konflik agraria yang bersentuhan langsung dengan sumber kehidupan masyarakat yang berprofesi sebagai petani, justru akan berujung pada konflik yang tidak menguntungkan masyarakat kecil, Save Sagea,” katanya.

Untuk diketahui, selain Samurai di lokasi yang sama refleksi Sumpah Pemuda juga di gelar oleh Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Maluku Utara dengan membawa isu Masyarakat Sagea dan Kerusakan Lingkungan Akibat Aktivitas Pertambangan. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!