OPINI: Kelaparan di Gaza, Strategi Baru Zionis ?
Opini  

OPINI: Kelaparan di Gaza, Strategi Baru Zionis ?

Mawar Sangadji (Aktivis Dakwah Remaja Tidore)

Oleh: Mawar Sangadji – Penderitaan anak-anak Palestina makin menyedihkan, mereka meninggal dunia bukan karna senjata yang menebus tubuh mereka tetapi rasa lapar yang mereka alami sampai badan mereka tinggal tulang. Tiga hari terakhir dari The Japan Times dikabarkan, 21 anak meninggal hanya dalam waktu 72 jam karna kekurangan gizi. Direktur Al-shifa Muhammed Abu Salmiya mengatakan ini adalah tsunami kematian yang datang dalam hitungan detik 2 juta jiwa yang terjebak dalam blokade merasakan kelaparan lebih brutal dari dentuman rudal.

Strategi Penjajahan

Pihak Zionis mengklaim, blokade itu dilakukan karena khawatir jika bantuan kemanusiaan akan dimanfaatkan oleh Hamas. Lalu Zionis bersama Amerika Serikat mengusulkan sistem distribusi bantuan baru melalui sebuah lembaga bernama Gaza Humanitarian Foundation (GHF). Namun niat jahat mereka tidak mampu ditutup-tutupi. Rencana tersebut hanyalah upaya mereka agar bisa mengontrol distribusi bantuan dalam kerangka tujuan politik dan militer yang lebih besar.

Betapa tidak? Mereka tetapkan empat titik penyaluran bantuan yang memaksa penduduk Gaza berpindah dari utara ke selatan di perbatasan Mesir. Rencana ini sejalan dengan keinginan mereka mempercepat pengosongan Gaza dan mengusir warganya keluar dari sana. Bahkan yang mengerikan, strategi ini ternyata dibuat dalam rangka mempercepat genosida.

Militer zionis menarget warga Gaza yang mencoba mengakses bantuan. Pada Kamis (10/7/2025), ada 66 warga yang tewas, 8 di antaranya anak-anak. Mereka datang ke sebuah klinik di Deir el-Balah untuk mengantre suplemen gizi dan bantuan lainnya. Namun tiba-tiba sebuah drone datang dan menembaki mereka hingga banyak yang meregang nyawa bahkan tewas seketika.

Serangan udara lainnya dilaporkan juga terjadi di kamp Al-Bureij, Gaza Tengah. Beberapa orang tewas, dan sejumlah lainnya luka-luka. Di kota Rafah, tiga warga sipil, termasuk seorang perempuan, juga tewas akibat tembakan militer Zionis di dekat pusat distribusi bantuan.

Diamnya penguasa Muslim

Penguasa arab dan negri muslim lainnya hanya diam membisu seakan Gaza sedang baik-baik saja. Penguasa muslim tidak mampu mendobrak pembatas dan mengizinkan lebih banyak bantuan masuk ke Gaza di tengah kelaparan dan kekurangan gizi. Justru penguasa Arab dan kaum muslim masih berhubungan dengan etitas besar zionis dengan sangat baik, hanya karena prihal dunia. Hal inilah yang membuat mereka sulit menolong saudara mereka di Gaza, mereka cinta dunia dan takut mati.

Pecah jeritan tangis bayi yang tak berdosa dan wanita-wanita Muslim yang teraniaya oleh kelakuan buruk zionis dan kelaparan. Anak-anak yang tak berdosa syahid bersimbah darah, begitu juga para ibu dan lansia yang terluka dan kehilangan keluarganya, semua itu tidak mampu mengetuk hati nurani mereka.

Para penguasa muslim dan negeri-negeri muslim di sekitaran mereka seolah-olah buta dan tuli sehingga tidak bisa melihat dan mendengar seruan minta tolong dari rakyat Palestina, sungguh miris. Penguasa Arab justru mengikuti apa pun garis yang Amerika Serikat buat. Mereka rela menanamkan investasi triliunan dolar pada Amerika Serikat demi kepentingan pribadi, padahal Trump hendak merelokasi penduduk Gaza dan menjadikan tanah Mikraj itu tempat maksiat. Para penguasa muslim itu juga menuruti perintah Amerika Serikat agar mereka menandatangani mengakui kedaulatan Zionis Yahudi laknatullah.

Hal ini juga merupakan buah penerapan sistem sekuler kapitalisme yang mengagungkan nilai materi dan rasa superior disertai dengan kebencian atas manusia lainnya. Ikatan nasionalisme menambah belenggu ukhuwah Islamiyah pada Gaza. Atas nama negara bangsa, kaum muslimin tidak berhak mengurusi saudara di negeri lainnya. Sungguh sistem dan ikatan yang rusak dan lemah.

Butuh Persatuan Umat

Sudah saatnya umat Islam bersatu untuk melawan kedozliman. Ini bukan tentang kemanusiaan lagi tetapi tentang tanah kaum muslim yang terus di kuasai oleh zionis Israel dan Amerika Serikat. Sudah saatnya kaum muslim bersatu di atas kalimat tauhid yang menyatukan kita dengan satu aqidah yang di contohkan oleh Rasulullah SAW yang di mana bukan karna harta dan jabatan yang menjadi tolak ukur dalam mengambil keputusan tetapi dengan keimanan kepada Allah berdasarkan Al-Qur’an & Sunnah.

Kurang lebih 13 abad Islam di terapkan, Islam menguasai 2/3 dunia, inilah Islam dengan aturan yang sang maha pencipta dan pengatur oleh karna nya Allah mengaturnya memberi solusi tuntas untuk mengusir penjajah dari negeri-negeri kaum muslim dengan cara jihad fisabilillah. Sebab, zionis hanya akan terkalahkan dengan senjata, bukan bantuan kemanusiaan. Dari sini juga dibutuhkan sebuah sistem yang mampu mengakomodir jihad kaum muslimin yakni sistem Islam. Dibawah satu kepemimpinan, mudah bagi kaum muslimin untuk menyatukan kekuatan dan menghilangkan sekat nasionalisme. Wallahu’alam **

Penulis: Mawar SangadjiEditor: PortalMalut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!