Oleh: Odi Saputra – 12 Rabiul Awwal 1445 H / 2023 M masyarakat Sagea melaksanakan kegiatan guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan tradisi topeng Cokaiba yang telah di wariskan oleh para leluhur terdahulu. Conon katanya dengan hadirnya Cokaiba di hari kelahiran Nabi Muhammad SAW bukan hanya ummat manusia yang ikut bergembira tetapi bangsa Jin dan Setan pun ikut bergembira menyaksikan kelahiran Rasulullah SAW. Perayaan topeng Cokaiba ini hanya ada di masyarakat tiga ( 3 ) negri yaitu Maba, Patani dan Weda di Kabupaten Halamahera Timur, Halamahera Tengah, Maluku Utara. Masyarakat Maba menyebutnya Ipa Ice, masyarakat Patani menyebutnya Tai Ipa dan masyarakat Weda menyebutnya Coka Iba.
Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, di Halmahera Tengah di serang oleh kepentingan investasi yang katanya masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Di tahun 2023 bulan Agustus sampai dengan bulan September, salah satu Sungai di Desa Sagea, Kecamatan Weda Utara, Halmahera Tengah mengalami pencemaran yang diduga ada indikasi dari beberapa perusahan yang beroperasi dibelakang Sungai Sagea yang sampai saat ini belum ada penyelesaian dari pemerintah secara nasional sampai ke provinsi dan juga kabupaten.
Maka masyarakat Sagea sembari melaksanakan tradisi Cokaiba di hari kelahiran Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1445 H / 2023 M juga membentangkan bendera Save Sagea dan juga beberapa umbul-umbul sebagai bentuk mosi tidak percaya kepada pemerintah secara nasional maupun Pemerintah Provinsi Maluku Utara juga Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah yang dianggap tidak serius menangani tercemarnya Sungai Sagea.
Tentang Sungai Sagea
Sungai Sagea juga adalah salah satu destinasi wisata alam yang di kenal masyarakat luas adalah Goa Bokimoruru yang di dalamnya di manfaatkan oleh warga setempat sebagai mata pencaharian di sektor ekonomi lokal. Tidak hanya di manfaatkan untuk berwisata, akan tetapi masyarakat juga mengkonsumsi air sungai sebagai air bersih dan juga aktivitas rumah tangga lainnya.
Namun akibat ulah daripada aktivitas pertambangan di belakang Sungai Sagea, di 2 bulan terakhir ini masyarakat Sagea dan Kiya sudah tidak lagi melakukan aktivitasnya seperti sebelum – sebelumnya, sudah tidak lagi mengkonsumsi air bersih di Sungai Sagea.
Maka protes secara simbolis dan juga gerakan-gerakan aksi masa akan terus berlanjut demi mempertahankan tanah air di bumi Fagogoru terutama masyarakat dua desa yaitu Desa Sagea dan Desa Kiya. **













